Kemarin, saya baru saja menonton film Indonesia berjudul Surat Kecil Untuk Tuhan. Ya, saya memang baru sempat menontonnya di tv karena waktu itu saya masih sibuk dengan berbagai macam persiapan untuk menjadi murid yang baru berseragam putih abu-abu.
Memang benar opini kebanyakan orang bahwa novelnya lebih mengharukan dari filmnya. Namun, filmnya juga tidak kalah mengharukan. Karena film yang diangkat dari kisah nyata seorang gadis pengidap kanker jaringan lunak bernama Gita Sesa Wanda Cantika ini membuat saya tersadar dan berfikir: "Kenapa saya selalu mengeluh? Padahal Tuhan sudah begitu baiknya. Kenapa saya selalu mencari keadilan? Padahal keadilan itu sendiri sudah berada di depan mata saya. Diberikan oleh Tuhan secara cuma-cuma dan ironisnya, saya seolah-olah buta."
Film yang di mata orang-orang mungkin sangat klasik, namun entah kenapa mampu membuat saya menitikkan air mata dan berulang kali mengucap syukur atas segalanya. Mensyukuri setiap detik yang Tuhan berikan kepada saya, karena sesungguhnya setiap detik adalah kesempatan. Kesempatan yang begitu langka, dan sayang untuk dirutuki. Mensyukuri apa yang ada di sekitar saya, yang masih saya miliki-- segalanya. Kalian boleh berkata saya melankolis hanya untuk film se-sederhana dan se-klasik itu, namun bukankah tidak pernah ada hal yang sederhana dari sebuah perjuangan?
Film ini juga menyadarkan saya tentang berbagai hal. Keluarga, persahabatan dan cinta.
Keluarga yang walaupun sedang berada di tengah carut marut namun sebenarnya masih ada kepedulian di tiap hati yang penuh dengan kekacauan. Ya, masih ada. Sedikitpun itu. Dan, bagaimanapun keadaan yang ada dalam keluarga, kita seharusnya tetap bersyukur. Karena Tuhan tidak akan membiarkan kita sendirian. Membuat saya membuka mata, bahwa setiap orang tua akan tetap dan tidak pernah tidak berhenti untuk menyayangi anak-anaknya. Mereka peduli, walaupun sudah tidak berada dalam satu atap yang sama.
Persahabatan. Lagi-lagi membuat saya berpikir: "Adakah orang yang akan memotong rambutnya sendiri lalu memberikannya kepada saya jika saya berada di posisi Keke? Akankah ada orang yang berlari memeluk dan menenangkan saya tanpa sedikitpun rasa jijik dalam kondisi seperti itu?" dan lagi-lagi, Tuhan memang adil. Tuhan memang memberikan Keke cobaan yang tidak biasa dengan kanker jaringan lunak yang menyerang bagian wajahnya. Namun, Tuhan mengelilingi Keke dengan orang-orang yang begitu peduli dan menyayanginya. Orang-orang yang bahkan tidak risih ataupun jijik lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Orang-orang yang justru membantunya untuk tetap menguatkan hatinya sendiri, meyakinkan diri bahwa ia akan sembuh. Sahabat-sahabat yang selalu setia di sisinya, bahkan sampai titik akhir perjuangan hidupnya. Keke tidak sepenuhnya tidak beruntung. Dan, Tuhan tidak pernah tidak adil.
Cinta. Disaat Keke dipenuhi rasa takut campur malu, berpikir bahwa laki-laki yang ia cintai akan meninggalkannya karena penyakit yang dideritanya. Laki-laki itu memang melangkahkan kakinya untuk pergi, namun ia tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap menyayangi Keke apa adanya. Ia tidak peduli dengan apa yang Keke derita. Ya, cinta memang sesederhana itu. Seseorang mencintai tanpa alasan. Seperti itulah harusnya.
Surat Kecil Untuk Tuhan memang bukan satu-satunya film/novel mengharukan yang di angkat dari kisah nyata. Bisa dibilang, film atau novel berkisah seperti itu memang tidak sedikit. Namun sesungguhnya kisah mereka tidak pernah klasik, dan tidak patut untuk dianggap klasik. Mereka, yang berjuang mati-matian untuk memerangi penyakitnya, selalu mempunyai cerita tersendiri. Perjuangan tersendiri yang orang normal tidak akan pernah tau rasanya. Mereka hebat. Lebih hebat dari kita yang mampu berjalan-jalan keliling dunia, menjuarai suatu kompetisi, menjadi ketua dari suatu event, dan lain-lain. Mereka hebat karena mereka selalu mensyukuri tiap detik yang Tuhan berikan. Mereka hebat, karena Tuhan memberikan mereka cobaan yang tidak semua orang bisa melaluinya.
Dan kisah mereka menyembuhkan "kebutaan" saya. Membuat saya menyadari kebodohan saya yang terus menerus menanyakan keadilan padahal keadilan itu sendiri ada di depan mata. Kita selalu merasa tidak adil ketika Tuhan memberikan kita cobaan. Padahal sesungguhnya disitulah letak dari keadilan-Nya. Karena sesungguhnya, Tuhan tidak pernah tidur.
Untuk Almarhumah Gita Sesa Wanda Cantika, walaupun kita tidak pernah kenal, namun terimakasih karena kisahmu telah membukakan mata saya. Tuhan pasti telah memberikan tempat terbaik untuk gadis se-hebat kamu. :)
